Jumat, 16 Mei 2014

MENGENAL LINGKUP GLOBAL PERMASALAHAN BIOLOGI BERDASARKAN FAKTA




BAGAIMANA KITA MENGENAL LINGKUP GLOBAL  PERMASALAHAN BIOLOGI BERDASARKAN FAKTA DI LINGKUNGAN ?

A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Persoalan  biologi  sangat  luas.  Cakupan  persoalan  dapat  dilihat  dari  dimensi  macam  objek   (ratusan   ribu   jenis),   tingkat   organisasi   kehidupan   makhluk   (tingkat   sel   -  komunitas),    dan    macam    tema    permasalahannya. Tiap    jenis    objek    dengan karakteristikanya,   menyimpan   segudang   permasalahan   biologi   yang   belum   tergali.  Persoalan  pada  tiap  objek  juga  akan  bervariasi  menurut  tingkat  organsisasinya.  Di  samping  itu,  variasi  persoalan  tersebut  juga  dapat  dilihat  dari  7  tema  besar  persoalan  biologi yang terjadi pada setiap organisme.   Macam permasalahan juga dapat dilihat dari kompleksitasnya,  dari  persoalan  yang  sangat  elementer  sampai  persoalan  multifaktor  yang sangat kompleks, yang membutuhkan kanjian bukan saja monodisiplin, melainkan multi atau bahkan transdisipliner.
cukup dan pemahaman tentang objeknya.

a.      Sumber Persoalan Biologi
Sumber permasalahan biologi adalah pada objek biologi. Setiap objek memunculkan gejala-gejala yang menjadi karakteristikanya dalam berinteraksi dengan   lingkungannya.  Walaupun objek di alam menggelar persoalan yang tak terbatas, seseorang tidak dengan  serta  merta  dapat  dengan  mudah  menangkap  masalah  tersebut.  Cara  pragtis,  masalah dapat  digali  langsung  dari  gejala-gejala  yang  muncul  dari  objek. Pengalaman  empirik tentang  fakta  dapat  menjadi  dasar  untuk  menangkap  permasalahan.  Pengenalan  pada
fakta  saja  tidak  cukup,  membutuhkan  kreativitas,  penalaran,  wawasan  teoririk  yang cukup danpemahaman tentang objeknya.

b.       Cara Mengenal Persoalan Biologi
Bagaimana   cara   menangkap   persoalan   biologi   ?   Permasalahan   biologi   dapat  ditemukan dari pemikiran kritis terhadap gejala pada objek, sehingga memunculkan ide  atau pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik rasa keingin-tahuannya. Dengan dukungan  kerangka   teoritik   yang   jelas,   dapat   mengilhami   seseorang   untuk   merancang   suatu rekayasa objek, rekayasa prosedur untuk kepentingan tertentu. Permasalahan biologi terletak atau melekat pada objek biologi dalam interaksinya di lingkungannya. Pada objek terdapat bermacam-macam gejala, baik gejala benda maupun gejala peristiwa.
Gejala dari objek dapat bila keadaan atau lingkungan berubah. Interaksi objek di lingkungannya yang dinamis dan variastif akan menimbulkan berbagai pertanyaan atau permasalahan. Kita mungkin mempertanyakan tentang bagaimana gejala tersebut dimunculkan (latar belakang munculnya gejala) atau sekedar mempertanyakan tentang karakteristika / sifat-sifat suatu objek biologi, baik yang berupa gejala-gejala kebendaan (struktural) maupun gejala peristiwa (fungsional).Persoalan biologi adalah pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai gejala pada objek biologi dalam interaksinya di lingkungannya.
Pertanyaan dapat berupa “ apa, bagaimana,mengapa, dimana, kapan ?. Permasalahan ada yang sangat elementer, dan ada pula permasalahan yang membutuhkan analisis dan sintesis secara rasional berdasar faktafakta atau gejala-gejala pada objek dan wawasan teori yang memadahi.
Permasalahan elementer (mendasar) adalah sekedar mempertanyakan keadaan pada objek. Misal, apa ciri-ciri pokok daun, mengapa daun berwarna hijau, ada berapa macam bentuk dan pertulangan daun, bagaimana struktur daun, bagaimana struktur daun sehingga mampu mendukung fungsi pertukaran gas, bagaimana daun menguning saat daun menjadi tua, dsb. Masalah biologi memang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, tetapi tidak setiap pertanyaan layak disebut sebagai permasalahan biologi. Contoh, mengapa manusia punya kepala, mengapa kaki dan tangan kita ada dua ?, mengapa tumbuhan memiliki akar, batang atau daun ?, dsb. Pernyataan itu memang berupa pertanyaan, tetapi tidak layak sebagai permasalahan biologi.
Permasalahan menjadi menarik bila mempertanyakan sesuatu yang belum jelas jawabannya, tetapi ada jalan untuk menjawabnya. Misal untuk permasalahan yang terfokus pada objek daun antara lain adalah berapa lama daun cukup efektif mendukung fotosintesis ? Kapan klorofil efektif dibentuk bersamaan dengan masa pertumbuhan daun ? Apa yang terjadi pada saat daun mengalami proses menua ? kapan, daun mencapai pertumbuhan optimal ?, dsb.
Sesuai dengan pertanyaannya, ada permasalahan sederhana dan ada pula permasalahan yang lebih kompleks (lebih berat). Permasalahan sederhana dapat dijawab dengan lebih mudah, dengan kegiatan yang lebih mudah pula. Ada pula masalah yang lebih rumit, lebih kompleks, lebih berbobot dan menuntut aktivitas pemecahan masalah yang lebih berat. Persoalan biologi juga dapat kita temukan bila kita menemukan adanya perbedaanperbedaan atau kesenjangan-kesenjangan. Kenyataan kesenjangan yang dapat menyadarkan kita akan adanya masalah, antara lain adalah :
1.       adanya kesenjangan fakta, yaitu kenyataan adanya perbedaan fakta pada objek yang sama (fakta 1 = fakta 2). Misal, daun ketela di suatu tempat kecil-kecil dan bercak kuning, sedangkan di tempat lain, daunnya hijau segar dan besar-besar. Pertanyaan pertama muncul adalah mengapa tanaman satu lebih sehat dan subur, sedangkan yang lain kurus dan bercak kuning ? Dari pertanyaan ini kita dapat menganalisis berbagai kemungkinan atau berhipotesis. Apakah hal itu diakibatkan oleh kualitas kesuburan tanah yang berbeda? Apakah tanaman dengan daun kecil dan bercak kuning mengalami defisiensi N ?, dsb. Jawaban atas pertanyaan yang terlontar akan kita temukan setelah kita menelitinya.

2.      Adanya kesenjangan antara fakta dan harapan (kenyataan dan harapan). Misal,
tanaman itu telah kita pupuk, tetapi mengapa hasilnya tetap jelek ? Timbul pertanyaan, misalnya : Apakah pupuknya terlalu sedikit atau dosisnya kurang ?, Apakah pupuknya yang jelek, Apakah ada faktor lain yang menghambat, misalnya : pH tanah, keadaan fisik tanah yang buruk, dst.

3.       Adanya kesenjangan antara fakta dan teori, antara teori yang satu dengan teori yang
 lain, pendapat ahli yang satu dengan pendapat ahli yang lain.

2.      TUJUAN
1.      Mahasiswa mengidentifikasi gejala-gejala biologi di tingkat individu, populasi, komunitas di lingkungannya.
2.       Mahasiswa dapat menemukan beberapa aspek permasalahan biologi berdasar gejala atau fakta yang ditemukan di lingkungan











B.     TINJAUN PUSTAKA
Makhluk hidup adalah makhluk yang memiliki ciri-ciri kehidupan seperti bernapas, bergerak, dan berkembang biak. Seperti yang diketahui bahwa tidak ada makhluk hidup yang dapat hidup sendiri di alam kehidupan ini, tetapi selalu terjadi saling ketergantungan di antara makhluk hidup tersebut.
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energy surya, mineral, serta flora fauna yang tumbuh di atas tanag maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Makhluk hidup dan lingkungan sangat erat kaitannya. Semua makhluk menjalani hidup dan semua kegiatannya akan berkaitan dengan lingkungan. Makhluk hidup bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Makhluk hidup makan, minum, dan melakukan kegiatannya semuanya memerlukan lingkungan.
Tidak ada makhluk hidup yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, termasuk manusia. Misalnya, agar dapat bertahan hidup manusia perlu makan. Makanan manusia berasal dari tumbuhan dan hewan. Sementara itu hewan peliharaan dan tumbuhan tidak dapat hidup dengan baik tanpa bantuan manusia. Hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya dapat digambarkan sebagai berikut : Individu – populasi – komunitas – ekosistem – biosfer.
Hubungan khusus antar makhluk disebut simbiosis. Simbiosis dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu simbiosis mutualisme, simbiosis parasitisme, dan simbiosis komensalisme.
1.         Simbiosis Mutualisme
Bila dua spesie mahluk hidup, hidup bersama maing-masing mendapat keuntungan dan kedua polpulasi dapat berkembang dengan baik tetapi jika keduanya terpisahkan masing-masing tidak dapat menjalankan hidup dengan baik. Dalam mutualisme hubungan tersebut mutlak diperlukan bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup kedua populasi.
  • Contoh :
  1. Simbiosis antara kerbau dengan burung jalak. Burung jalak memperoleh makanan berupa serangga-serangga kecil yang menempel pada tubuh kerbau, sedangkan kerbau diuntungkan dengan hilangnya serangga-serangga kecil yang mengganggu tubuhnya.
  2. Simbiosis antara lebah dengan bunga.  Lebah mengambil nektar dari bunga sebagai makanan, sedangkan bunga diuntungkan karena lebah membantu terjadinya penyerbukan.
2.         Simbiosis Parasitisme
Simbiosis parasitisme adalah hubungan antar makhluk hidup yang hanya menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lain.
  • Contoh :
  1. Tanaman benalu yang menempel pada pohon lain.  Benalu yang menempel pada tanaman inang akan menyerap makanan yang dihasilkan tanaman inang, akibatnya tanaman inang akan mati karena makanannya diserap oleh benalu.
  2. Kutu yang hidup pada tubuh hewan.  Kutu yang hidup di tubuh hewan mendapatkan makanan dengan menyedot darah hewan, akibatnya hewn akan kehilangan darah dan merasa gatal karena ada kutu di tubuhnya.
3.         Simbiosis Komensalisme
Simbiosis komensalisme adalah hubungan antar makhluk hidup yang menguntungkan satu pihak sedangkan pihak lainnya tidak diuntungkan dan tidak dirugikan.
  • Contoh :
  1. Simbiosis antara tanaman anggrek dengan pohon inangnya.  Anggrek membutuhkan pohon yang tinggi sebagai tempat menempel agar memperoleh sinar matahari, sedangkan pohon tidak diuntungkan dan tidak dirugikan karena anggrek hanya menempel dan dapat membuat makanannya sendiri.
  2. Simbiosis antara ikan remora dengan ikan paus.  Ikan remora berada dekat tubuh ikan paus agar memperoleh makanan yang berupa ikan-ikan kecil, sedangkan ikan paus tidak merasa dirugikan karena ikan remora yang ukuran tubuhnya kecil tidak mengambil semua makanannya.
4.         Simbiosis Netralisme
Bila antara dua spesies individu baik dalam keadaan terpisah maupun berkumpul tidak terjadi saling merugikan atau saling menguntungkan.
  • Contoh : ayam dengan kambing di halaman rumput
5.         Predasi
Interaksi dari dua individu dalam populasi berbeda spesies berupa makan dan dimakan atau satu spesies memakan spesies lainnya, individu yang memakan disebut predator dan yang dimakan disebut mangsa.
Perbedaan simbiosis predasi dengan simbiosis parasitisme yaitu pada simbiosis parasitisme, parasit biasanya tidak membunuh induk iangnya karena jika induk inang mati, maka parasit juga akan ikut mati.
  • Contoh : harimau memakan kelinci. Harimau sebagai predator dan kelinci sebagai mangsa
6.         Kompetisi
Hubungan dua populasi yang hidup bersama dan saling mempengaruhi, akibat adanya kebutuhan-kebutuhan akan bahan yang sama, sedangkan ketersediaan bahan tersebut terbatas.
  • Contoh : beberapa ekor kambing dan sapi yang bersama-sama makan rumput di padang rumput.
7.         Antagonisme
Hubungan antara dua populasi yang bermusuhan. Kedua populasi bias hidup sendiri-sendiri tetapi jika hidup bersama maka salah satu akan mati.
  • Contoh : hubungan anjing dengan kucing, jamur penghasil antibiotic dengan bakteri.





C.     METODE PRAKTIKUM
1.      Waktu Dan Lokasi Praktikum
-          Waktu                         : praktikum ini dilakukan pada hari kamis 22 agustus 2013 pada jam 09.30 wit.
-          Lokasi                         : samping lab zoology FMIPA biologi Unpatti dan kolam samping Fakultas Hukum Unpatti.
2.      Sasaran atau objek pengamatan
-          Obyek pengamatan : Kebun biologi / lingkungan sekitar
-          Dua lingkungan yang kontras atau berbeda, seperti :
Tempat terbuka dengan tempat ternaungi,
Tempat kering dengan tempat lembab,
Beberapa jenis pohon yang berbeda (“pohon sebagai sebuah habitat”),
Kolam terbuka dan ternaungi,
Sungai tenang dan deras, dst.
-          Sasaran pengamatan :
Berbagai gejala structural, fungsional atau aktivitas organisme, baik secara individu,
populsi / komunitas di lingkungannya (Lingkungan yang berbeda).
-          Kegiatan :
Identifikasi gejala structural, fungsional atau bentuk-bentuk aktivitasnya di tingkat populasi atau komunitas di lingkungannya.(jenis, kerapatan dan distribusi organisme, alat reproduksi dan pemencaran nya, dst.)
Identifikasi gejala-gejala structural, fungsional atau bentuk-bentuk aktivitas –nya pada tingkat individu : Struktur tubuh (morfologis & anatomis), tingkah laku dan berbagai aktivitas lain yang dapat ditemukan (teramati).
3.      Cara kerja
-          Lakukan pengamatan obyek biologi di lingkungan sekitar yang saudara pilih untuk sebagai obyek pengamatan.
-          Temukan gejala-gejala structural, fungsional dan aktivitas-aktivitas suatu populasi dalam komunitasnya dari beberapa habitat/ lingkungan yang kontras berbeda..
-          Analisislah bentuk-bentuk hubungan interaksi yang terjadi di dalam habitat tersebut.
-          Identifikasi pula gejala-gejala structural dan fungsional (aktivitas) pada tingkat individu organize. Analisis bentuk-bentuk hubungan antara gejala-gejala yang teramati pada obyek organisme tersebut.
-          Berdasarkan hasil pengamatan pada obyek (organisme di lingkungannya), permasalahan biologi yang umum (global) apakah yang dapat saudara tangkap ?
-          Berdasar referensial (pengalaman teoritik), gejala atau permasalahan biologi apa sajakah yang umum dikaji dan ditunjukkan ?.
-          Berdasar struktur ilmu biologi menurut BSCS, tunjukkan :
-          Berapa macam golongan organisme ?
-          Ada berapa macam thema persoalan biologi ?
-          Ada berapa tingkat organisasi kehidupan dimana berbagai persoalan terjadi ?
-          Bila dicerminkan pada thema permasalahan biologi BSCS, thema persoalan manakah yang dapat saudara temukan (tangkap) berdasarkan hasil pengamatan saudara ?


















D.    HASIL DAN PEMBAHASAN
-          HASIL
LOKASI PRAKTIKUM
GEJALA STRUKTURAL
GEJALA FUNGSIONAL
Daerah Ternaungi
-          Cahaya matahari
-          Tanah
-          Batuan
-          Suhu
-          Kelembaban
-           
-          Rumput
-          semut
-          cacing
-          tumbuhan paku
-          lumut
Daerah Terbuka
-          Tanah
-          Batuan
-          Cahaya matahari
-          Suhu
-          Kelembaban
-          Rumput
-          pohon palm
-          pohon trembessi
-          pohon bitanggor
-          pohon pule
-          radius color
-          tumbuhan paku

Kolam Terbuka
-          Suhu
-          Kelembaban
-          Cahaya
-          Air

-          Ikan
-          Hydrilla ferticilata
-          Teratai
-          Keong (gastropoda)
-          Tumbuhan Kangkung
-          Lumut
-          capung
Kolam Ternaungi
-          Cahaya
-          Suhu
-          Kelembaban
-          Lumpur
-          Teratai
-          Ikan
-          Keong (gastropoda)
-          Putri malu (Mimosa pudica)
-          Tumbuhan Kangkung
-          Lumut
-          Hydrilla ferticilata

-          Pembahasan
Dari hasil diatas dapat terlihat bahwa pada daerah yang berpapasan langsung dengan cahaya matahari atau daerah terbuka banyak didominasi oleh tumbuhan tingkat tinggi seperti : pohon palm, bitanggor, pohon pule, dst. Sedangkan pada daerah yang kurang sinar matahari atau yang ternaungi banyak didominasi oleh tumbuhan tingkat rendah seperti lumut, rumput dan lain sebagainaya.
Pada daerah kolam yangternaungi dan yang tidak ternaungi tidak terlihat perbedaan yang begitu signifikan karna makhluk hidup yang terlihat pada daerah kolam yang ternaungi terdapat pula pada daerah yang tidak ternaungihanya saja jumlah makhluk hidup pada daerah terbuka lebih banyak jika dibandingkandengan daerah kolam yang ternaungi.


E.     PENUTUP
-          Kesimpulan
Dari pengamatan yang terlihat pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa cahaya matahari berperan sangat penting pada proses penyebaran makhluk hidup.






DAFTAR PUSTAKA
-          Buku penuntun praktikum biologi dasar 1 FMIPA biologi 2013
-          http://ayuli012.wordpress.com/2012/10/





















PENGAWETAN

PENGAWETAN BASAH Mungkin kebanyakan dari kita belum mengetahui taxidermy. Taxidermy adalah seni pemasangan atau kegiatan mereproduksi hewan yang sudah mati untuk dijadikan trofi berburu dan sumber belajar. Istilah taxidermy berasal dari bahasa Yunani yang artinya "penataan kulit". Taxidermy dapat dilakukan pada semua spesies vertebrata dari hewan, termasuk mamalia, ikan, burung, amfi bi, dan reptil. Orang yang mereproduksi dan ahli mengisi kulit hewan disebut taxidermist. Para taxidermist dapat berlatih secara profesional untuk museum atau sebagai bisnis untuk kebutuhan para pemburu dan nelayan, atau sebagai amatir. Mereka harus mengerti tentang anatomi, patung, lukisan, dan penyamakan. Kegiatan mengumpulkan hewan yang sudah dibekukan (taxidermy) mungkin pernah kita temui ketika berkunjung ke museum atau ke rumah seorang kolektor. Biasanya hewan-hewan tersebut menjadi hiasan. Sekilas terlihat seperti hewan yang masih hidup, tetapi sebenarnya telah mati. Memang sebenarnya mereka adalah hewan yang dikeraskan (dibekukan), tubuhnya asli, bukan buatan manusia. Tetapi, kebanyakan hewan taxidermy diletakkan pada museum-museum karena hewan-hewan yang dibekukan itu digunakan untuk belajar, sebagai media ilmu pengetahuan tentang anatomi tubuh hewan. Pada masa pemerintahan Victoria, taxidermy merupakan objek desain dan seni dekorasi yang mengacu pada pandangan kaum Barat terhadap dominasi manusia atas hewan. Hampir setiap kota memiliki bisnis penyamakan pada abad ke-18. Kemudian, pada abad ke-19, para pemburu binatang membawa hasil buruan mereka ke toko kain pelapis jok. Di situ, para pekerja pelapis kain jok benar-benar akan menjahit kulit hewan dan barang-barang mereka dengan kain dan kapas. Istilah "barang isian" atau "boneka" berevolusi dari bentuk kasar taxidermy. Para ahli yaxidermy lebih memilih memasang dan mengisi dengan kapas yang terbungkus tubuh kawat dengan jahitan pada kulit yang masih bagus. Dalam sebuah artikel "Nouveau Dictionnaire d'histoire Naturelle" (1803-1804) yang dipopulerkan Arsenical Soap, Louis Dufresne adalah ahli mengisi binatang di museum nasional d'Histoire Naturelle dari tahun 1793. Teknik itu memungkinkan untuk membangun museum koleksi terbesar burung di dunia. Seni taxidermy mulai berkembang pada awal abad ke-20 oleh artis Carl Akeley, James L Clark, William T Hornaday, Coleman Jonas, Fredrick, William Kaempfer, serta Leon Bardoa. Di bawah pimpinan mereka, seni taxidermy berkembang menjadi bentuk modern. Tokoh Anatomis mengembangkan setiap detail artistik dengan pose yang menarik secara akurat, dengan pengaturan yang realistis dan bentuk yang dianggap sesuai untuk spesies. Ini hanya perubahan dari karikatur populer menjadi sebuah trofi (piala). btr/R-2 Bentuk Seni yang Menarik Praktik metode para taxidermist telah meningkat selama satu abad terakhir dengan mempertinggi kualitas taxidermic dan menurunkan kualitas toksisitas. Prosesnya sama ketika menghilangkan kulit dari ayam yang belum dimasak. Proses taxidermy dapat dicapai dengan cara tidak membuka rongga tubuh hewan sehingga pengisian tidak harus melihat organ tubuh hewan tersebut. Praktik itu bergantung pada jenis kulit dan bahan kimia yang diterapkan pada kulit sehingga menjadi kulit yang kecokelatan. Kemudian dipasangkan pada manekin yang terbuat dari kayu, wol, dan kawat, atau bentuk poliuretan. Banyak ahli kulit AS menggunakan hewan beruang sebagai bahan taxidermy, tetapi sebagian dari mereka menggunakan ular, burung, dan ikan sebagai objek taxidermy. Pemasangan binatang telah lama dianggap sebagai suatu bentuk seni yang menarik. Seni ini membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pengerjaannya. Tidak semua taxidermist modern menjadikan taxidermy ajang memburu trofi atau komersialitas. Dengan cara pembekuan, spesimen taxidermy dapat disimpan dan digunakan kemudian. Ahli pengisi binatang kemudian menghilangkan kulit. Kulit akan tampak kecokelatan dan diobati dengan bahan kimia. Kemudian melakukan pengukuran pada kulit yang tersisa untuk mengambil beberapa bagian tubuh dan kulit. Sebuah metode tradisional yang masih populer saat ini dengan cara melibatkan dan mempertahankan tengkorak asli dan tulang kaki dari spesimen, dan menggunakannya sebagai dasar untuk pembuatan manekin, dibuat dari rol kayu dan kawat galvanis. Ada cara lain dari metode ini, yaitu memplester bangkai hewan secara rapi, kemudian membuat salinan dari hewan tersebut dengan menggunakan salah satu dari beberapa metode pembuatan taxidermy. Kemudian sebuah cetakan akhir terbuat dari resin poliester dan kain kaca. Suatu bentuk poliuretan dibuat untuk produksi akhir. Cetakan yang digunakan untuk menghasilkan tokoh binatang disebut "bentuk". Bentuk juga dapat dibuat dengan patung hewan di tanah liat. Banyak orang menghasilkan bentuk dan dijadikan stok dalam berbagai ukuran. Kemudian mata kaca biasanya ditambahkan ke dalam bentuk, dan dalam beberapa kasus menggunakan gigi palsu, lidah, rahang, atau untuk beberapa burung menggunakan paruh dan kaki buatan. Seiring berjalannya waktu, tren taxidermy semakin populer, yaitu membekukan hewan secara kering (freezing dry). Metode freezing dry biasanya dilakukan pada reptil, burung, dan mamalia kecil seperti kucing, tikus besar, serta beberapa jenis anjing. Metode ini memang terlalu memakan waktu dan mahal. Kemudian ada istilah rogue taxidermy yang diperkenalkan oleh Minneapolis, keolmpok yang berbasis pada the Minnesota Association of Rogue Taxidermists (MART) pada oktober 2004. Asosiasi itu didirikan oleh Sarina Brewer, Scott Bibus, dan Robert Marbury. Lantas, ada istilah taxidermy antropomorfik, yakni tempat boneka binatang yang berpakaian layaknya orang, atau ditampilkan seolah-olah terlibat dalam kegiatan manusia. Metode ini sangat populer pada era Victoria dan Edward, tetapi gaya atau metode ini masih dapat kita temukan saat ini. Praktisi yang terkenal dengan metode ini adalah Walter Potter dan Edward Hart yang menggambarkan atau membuat seri tinju dua tupai merah. btr/R-2Pengakuan Amanda Seyfried Aktris cantik Amanda Seyfried ternyata memiliki hobi yang cukup aneh. Ia ternyata senang sekali mengoleksi hewan- hewan yang diawetkan alias taxidermy. Bersama dengan mantan kekasihnya, Ryan Phillippe, aktris multitalenta ini adalah seorang pencinta seni taxidermy (seni mengawetkan binatang). Tentu saja ia membuat banyak orang terkejut dengan pernyataannya karena biasanya yang memiliki hobi tersebut adalah orang-orang geek. "Aku memang seorang penggemar taxidermy, aku lebih suka mengoleksi binatang-binatang yang diawetkan, yang tubuh dan kulit yang masih dalam bentuk utuh," kata dia. Karena kecintaannya pada seni taxidermy ini, wanita berambut pirang yang berperan sebagai Karen Smith di film Mean Girls (2004) itu rela mengeluarkan uang berapa pun untuk memuaskan keinginannya mengoleksi binatang-binatang yang telah diawetkan. "Belum lama ini, aku membeli seekor kuda yang diawetkan. Ini adalah binatang utuh kedua yang aku beli. Harga kuda itu 1.900 euro (sekitar 25 juta rupiah). Memang mahal sih, tapi ini sebuah seni yang aku suka," pungkas dia. berbagai sumber/btr/R-2 PROSES PENGAWETAN HEWAN Biologi adalah suatu ilmu tentang kehidupan. Bagi siswa mempelajari tumbuhandan hewan dalam hubungannya dengan lingkungan sekitarnya adalah bagian penting dalammempelajari biologi. Untuk mengenal hakekat hidup, serta dalam kehidupan tersebutdiperlukan suatu cara atau metode.Pengawetan tumbuhan dan hewan sangat diperlukan terutama untuk memenuhikebutuhan pada masa yang akan datang, "dalam membantu" perkembangan ilmu. Awetanrangka dan anatomi tumbuhan maupun hewan sering diperlukan sebagai alat peraga dalamkegiatan belajar mengajar biologi di kelas. Adanya awetan yang dibuat sendiri sangatmembantu pengadaan alat peraga dan koleksi. Tanpa adanya pengawetan yang baik,tumbuhan dan hewan yang ditemukan dan dikoleksikan maka akan mengalami kerusakan,misalnya pengerutan atau pembusukan A. Herbarium Herbarium adalah tumbuhan yang dikeringkan dan direkatkan pada kertasmanila, diberi nama dan keterangan secara lengkap, atau dapat pula diartikan sebagailembaga atau tempat menyimpan herbarium spesimen. Pada awalnya herbariummerupakan tempat menyimpan tanaman atau tumbuhan yang memiliki khasiat obat.Herbarium berfungsi sebagai: 1.Tempat koleksi tumbuhan 2.Tempat pemeliharaan fosil tumbuhan 3.Tempat aktivitas ilmuan sistematika 4.Tempat penelitian sistematika tumbuhan. 5.Pemeliharaan data vegetasi , 6.Tempat sarana membelajaran botani phansrogamae. 7.Bahan identifikasi dan determinasi. 8.Bukti kekayaan tumbuhan dari suatu daerah. 9.Bahan tukar menukar kekayaan alam tumbuhan dari berbagai daerah. Untuk membuat suatu herbarium sederhana diperlukan beberapa peralatan yang terdiridari: 1. Cangkul atau sekop. 2. Gunting tanaman kecil. 3. Pisau saku atau pisau silet. 4. Sabit panjang. 5. Vasculum/tromol/kantong plastik ukuran 55 cm x 80 cm. 6. Sasag untuk mengepres ukuran 55 cm x 40 cm.7. Binokuler lapangan. 8. Kertas koran. 9. Pita meteran. 10.Altimeter. 11. Label, note book, pinsil, kertas koleksi, dan lem. 12. Kamera (tustel). 13. Bahan pengawet (sublimat, alkohol, formalin). B. Insektarium Salah satu cara yang baik untuk mempelajari serangga diantaranya ialah pergike lapangan dan kemudian kita mengadakan koleksi terhadap serangga-seranggatersebut. Akan tetapi mempelajari serangga tidak mungkin dilakukan di lapangan setiap jam pelajaran. Hal ini disebabkan karena terbatasnya waktu jam pelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengadakan koleksi terhadapserangga tersebut dan selanjutnya mengawetkannya. Mempelajari serangga dengan menggunakan koleksi serangga yang telahdiawetakan akan lebih menarik dibandingkan dengan hanya mempelajari serangga dari buku saja maupun mengamati gambar serangga yang ada pada buku.Tanpa diawetkan serangga-serangga tersebut mungkin hanya dapat dipakai satukali praktikum tetapi jika diawetkan dapat dipergunakan selama mungkin. Denganmengawetkan serangga yang telah dikoleksi kita tidak perlu sering mengadakan koleksiyang mungkin akan mengganggu keseimbangan alam. 1.Alat dan Bahan yang diperlukan 1.Jala serangga (insect net) 2.Botol pembunuh serangga (Insect killing jar). 3.Tromol. 4.Kantong plastik. 5.Amplop atau kertas yang dapat dibuat amplop. 6.Perentang serangga (Spreading board). 7.Pinset. 8.Kotak serangga. 9.Jarum serangga. 10.Kartu label. 11.Kapurbarus/silikagel. Untuk lebih jelasnya dikenalkan satu-persatu mengenai alat serta bahan yang dipergunakan untuk koleksi dan pengawetan serangga tersebut sebagai berikut. B.1.a.Jala serangga ahan yang digunakan untuk membuat j ala serangga.a.kain kelambu b.kain katunc.bangkai dari kawatd.tangkai kayue.tali pengikat atau pipa besi B.1.b.Botol pembunuh serangga Botol ini berupa botol yang bermulut datar dan mempunyai tutupyang rapat. Ukuran botol tersebuit bermacam-macam ada yang kecil ada juga yang besar. Pada bagian dasar botol berisi zat pembunuh seranggamisalnya Calcium Cyanida (CaCn). Di atas Calcium Cyanida terdapatlapisan katun dan kapas yang dilapisi dengan cardboard. B.1.c.Tromol Tromol berupa kotak yang terbuat dari logam yang mempunyaitutup dan mempunyai tali yang dapat disandang. B.1.d.Kantong plastik Kantong plastik berupa plastik yang transparan dengan bermacam-macam ukuran diantaranya 5x10 cm2, 10 x 10 cm2, dan sebagainya. B.1.e.Amplop Amplop terbuat dari kertas HVS ataii kertas stensil ukuran folio.Kertas tersebut dilipat sedemikian rupa sehingga menjadi amplop tempatmenyimpan serangga sementara.Cara membuat amplop :-Kertas HVS ukuran folio (ABCD).- Buat garis EF seperti terlihat paga gambar.- Lipat kertas tersebut pada garis EF menurut arah pada gambar.- Setelah dilipat terlihat seperti gambar. - Garis AB dan garis BC dilipat seperti arah panah, hingga terbentuk amplop. B.1.f.Pinset Pinset diperlukan untuk mengambil serangga kecil atau larvaserangga. B.1.g.Perentang serangga Perentang serangga bahannya terbuat dari kayu dan mempunyaiukuran panjang 30 cm dan lebar 10 cm. Bentuknya seperti tampak padagambar. B.1.h.Kotak serangga Kotak serangga merupakan kotak untuk menyimpan seranggayang telah diawetkan. Kotak serangga dapat terbuat dari bahan kayu ataukarton tebal yang mempunyai tutup yang terbuat dari kaca. Tutup tersebutdapat dibuka.Cara membuat tutup dapat dibuat langsung dari kaca yang bisadigeser seperti tampak pada gambar atau tutup kotak tersebut berupa bingkai yang memakai kaca dan dapat dibuka dengan engsel.Ukuran kotak dapat dibuat bermacam-macam tergantung darikebutuhan, misalnya panjang 60 cm dan lebar 40 cm, tinggi atau tebalkotak antara 6-7 cm. Pada bagian dasar dari kotak dilapisi dengan bagianyang lunak supaya mudah ditusuk oleh jarum serangga, misalnya terbuatdari lempengan gabus atau lembaran busa. B.1.i.Jarum serangga Jarum serangga bentuknya seperti jarum pentul tapi lebih panjangdari jarum pentul. B.1.j. Kertas label Kertas label terbuat dari karton manila yang berwarna putihdengan bentuk empat persegi, panjang ukurannya tidak lebih dari 6x8mm2. B.1.k. Kapur barus Kapur barus yang dipergunakan ialah kapur barus yang biasadigunakan sehari-hari. Kapur barus disimpan dalam kotak serangga yang berisi serangga yang telah diawetkan dan dibungkus dengan kain kasa danditempelkan pada dasar kotak dengan bantuan jarum pentul atau paku payung. B.2. Cara Menangkap Serangga Untuk menangkap serangga digunakan jala serangga. Jala serangga padaumumnya digunakan untuk menangkap serangga yang dapat terbang. Untuk menangkap serangga-serangga kecil yang hidup pada rumput-rumputan atau padasemak, yaitu dengan cara mengibas-ngibaskan jala serangga beberapa kali padarumput atau semak tersebut.Jala serangga dapat juga diguankan untuk menangkap serangga sedangterbang. Apabila serangga tersebut telah masuk ke dalam jala maka jala tersebutsegera dilnatkan agar serangga tidak lepas kembali (lihat gambar). Untuk mengambil serangga yang telah masuk ke dalam jaring dapat dilakukan dengancara memasukkan botol pembunuh serangga ke dalam jaring. Selanjutnya tutup botol dibuka dan setelah serangga masuk ke dalam botol segera ditutup d anganrapat. Mengambil serangga di dalam jala serangga dengan menggunakan botol pembunuh serangga dapat menghindari kerusakan serangga. Karena apabiladengan tangan atau pinset serangga tersebut akan menggelepar, kemudian bagiantubuh serangga, misalnya sayap akan robek. Juga pengambilan serangga dengancara tersebut dapat menghindari sengatan apabila serangga tersebut mempunyaisengat. Setelah serangga dalam botol tersebut mati, maka untuk serangga kecilatau serangga yang bersayap dimasukkau ke dalam kantong plastik. Sedangkanuntuk serangga besar terutama kupn-kupu dimasukkan ke dalam amplop yangtelah disediakan terlebih dahulu. Kantong plastik dan amplop yang berisiserangga selanjutnya dimasukkan ke dalam tromol. B.3. Cara Merentang Serangga Sebelum serangga itu dikoleksi dalam kotak serangga terlebih dahuluserangga tersebut hams direntang pada papan perentang serangga. Pada waktumerentang harus diusahakan semua bagian serangga harus mudah dilihat danmudah untuk dipelajari. Serangga yang direntang harus masih utuh, artinyasemua bagian serangga tidak ada yang hilang atau rusak.Serangga yang akan direntang bagianthoraknya(dada) ditusuk dengan jarum serangga. Cara menusuk serangga tergantungpada jenis serangganya.Selanjutnya bagioan tubuh serangga diletakkan pada bagian tengali atau bagianyang melekuik dari perentang serangga. Punggung (bagian dorsal) seranggamenghadap ke atas dan serangga diletakkan ke arah memanjang dari perentangserangga. Kemudian letak sayap diatur. Supaya letak sayap tetap maka harusditutup dengan kertas dan dikuatkan dengan jarum serangga. Setelah direntangserangga tersebut dibiarkan untuk beberapa hari sampai serangga tersebut kering.Selama pengeringan dalam perentang serangga tidak perlu diberi bahan pengawet karena tubuh serangga mempunyai rangTa luar yaqng terbuat dari bahan kitin. Selama pengeringan harus diusahakan disimpan di tempat yang bebas semut. Lama pengeringan dalam perentang tergantung dari besar kecihiyaserangga dan juga tergantung dari kelembaban dan temperature udara:Untuk mengetahui apakah serangga tersebut sudah kering dapat dilakukandengan cara menyentuh abdomen serangga tersebut dengan menggunakan jarum- jarum secara berhati-hati.Apabila abdomen tersebut dapat bergerak terhadap sayap maka seranggatersebut belum kering betul. B.4.Cara Penusukan Serangga Serangga yang telah dikeringkan diletakkan dalam kotak serangga dengan bantuan jarum serangga yaitu dengan cara menusuk serangga tersebut dengan jarum serangga. Serangga ditusuk pada bagian tubuhnya secara vertikal. Bagiantubuh serangga yang ditusuk tergantung dari jenis serangganya. Serangga yang berbentuk kupu-kupu, labah, kumbang kayu, dan lalat, penusukan dilakukan padathorax di antara dasar sayap depan. Untuk kumbang kayu dan lalat, tusukan agak mengarah ke sebelah kanan. Penusukan pada kepik kayu yaitu pada bagian kananscutellum. Pada Belalang penusukan di bagian belakang pronotum arah sebelahkanan. Pada serangga yang bersayap perisai penusukan dilakukan pada elytron sebelah kanan.A. Kupu-kupuB. LalatC. Kepik D. BelalangE. Serangga bersayap perisai B.5. Cara Memberi Label Nilai ilmiah dari spesimen serangga tergantung dari data lokasi, tanggaldan kolektor yang tertulis pada label. Label ditusukan dengan jarum serangga dandiletakkan paralel dengan serangga. Tinggi label pada jarum harus sama yaitusekitar 1,5 cm. Tulisan pada label harus dapat dibaca dari sebelah kananserangga. B.6.Cara Menyusun Koleksi Serangga Specimen serangga yang telah ditusuk dengan jarum serangga dan diberilabel disusun dalam kotak serangga. Serangga dapat disusun menurut Ordo danFamilinya. Untuk keperluan tersebut diperlukan label Ordo dan label Famili.Label Ordo berisi nama Ordo dan nama daerahnya demikian juga label famili berisi nama famili dan nama daerahnya. Label Ordo diletakkan pada jarumterpisah demikian juga label Famili.Untuk koleksi yang disusun dalam musium selain diberi label Ordo danfamili juga diberi label Genus, Species, Author dan tanggal. Label ini berukuran1,25 cm x 3 cm dan diletakkan pada bagian bawah yang berisi lokasi, tanggal dankolektor. B.7. Pengawetan Serangga dalam Cairan Penganiet Pengawetan serangga selain cara kering dapat juga dengan caramenggunakan cairan pengawet. Pengawetan dengan cara ini dapat dilakukansecara sementara sebelum serangga tersebut ditusuk atau atau juga dilakukansecara permanen. Para kolektor banyak yang mengawetkan serangga dalamcairan pengawet karena hal ini mempunyai kemudahan dalam determinasidibandingkan dengan serangga yang ditusuk. Serangga yang biasa diawetkandalam larutan pengawet terutama serangga dalam stadium larva atau nirnfa,serangga yang mempunyai tubuh lunak dan serangga kecil yang apabila ditusuk akan rusak. B.7.a.Bahan Cairan yang digunakan untuk mengawetkan serangga dan larva ialahetil alkohol 70% s.d 75%. Cairan yang digunakan untuk membunuhserangga dan larva ialah etil alkohol 95%. B.7.b.Cara mengawetkan Serangga atau larva dimasukkan dalam etjl alkohol 95% selama 24 jam. Selanjutnya serangga tersebut diawetkan dalam botol yang berisi etilalkohol 70% s.d 75% dan tutup dengan rapat.Etil alkohol cocok digunakan sebagai pengawet larva tetapi biasanyatidak cocok digunakan untuk membunuh larva. Cara membunuh yangtidak cocok dapat mengakibatkan larva tersebut kehilangan warna,menggelembung atau bentuknya berubah. B.7c. Cara membunuh larva 1.Dengan cara kimiawi Dengan cara ini dilakukan derngan menggunakan larutan seperticampuran XA: Xilene ......................1 bagian Etil alkohol 95% ..............1 bagian 2. Dengan cara pemanasan Cara ini dilakukan dengan memasukkan larva ke dalam air panas yangdibiarkan airnya sampai dingin dan diawetkan dalam etil alkohol 75%. TEKNIK PENGAWETAN HEWAN AVERTEBRATA Pengawetan hewan avertebrata bertujuan untuk mempermudah pemahaman morfologi, anatomi, anatomi dan sistematika hewan avertebrata dengan membuat media pendidikan sendiri. Tahap-tahap pengawetan hewan avertebrata, yaitu : 1. kegiatan mematikan hewan Yaitu dengan cara memasukkan hewan avertebrata ke dalam larutan pembunuh seperti alkohol pekat atau larutan formalin 3%. Pada hewan yang melakukan gerakan-gerakan yang kuat sebaiknya tidak langsung dimatikan tapi dilakukan anastesi dahulu. Untuk melakukan anastesi dapat dilakukan dengan menggunakan zat-zat sebagai berikut : a. menthol, dengan cara menaburkan kristal-kristal menthol pada permukaan air tempat hewan tersebut mengembang. b. Magnesium sulfat, kristal magnesium langsung ditaburkan pada permukaan hewan yang masih basah. c. magnesium chlorida, larutan chlorida 7,5% (dilarutkan air yang telah mendidih) kemudian hewan seperti plankton dimasukkan ke dalam larutan tersebut selama 30 detik. d. chloral hydrate, digunakan untuk melakukan anastesi hewan air tawar e. propylene phenoxetol, dengan cara merendam hewan-hewan yang mau dianastesi lalu ditetesi larutan propylene phenoxetol yang kadarnya tidak melebihi 1%. f. ethyl alcohol, untuk anastesi hewan air tawar dengan kadar 10%. 2. fiksasi Fiksasi adalah suatu proses yang menstabilkan protein penyusun jaringan, sehingga setelah hewan mati jaringan masih tetap seperti kondisi hewan masih hidup. Zat kimia yang umum digunakan untuk fiksasi adalah formaldehyde, ethanol, asam asetat. 3. Pengawetan. Hewan yang telah diawetkan disebut spesimen tidak akan mengalami pengkerutan atau rusaknya penyusunnya karena terbebas dari bakteri dan jamur. Pengawetan Hewan Kering dengan Taksidermi Pengawetan hewan kering dengan cara /istilah taksidermi merupakan proses pengawetan dengan cara mengelurkan organ dalam dari hewan tersebut dan yang dibentuk adalah kulit dari hewan itu sendiri. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca blog saya yang sederhana ini mengenai teknis pengerjaan pengawetan hewan dengan cara pengeringan ini lebih detail disertai foto kegiatan yang pernah saya lakukan mudah-mudahan bermanfaat (foto-foto ini saya ambil kebetulan dapat job/order/terima jasa pengawetan hewan kering dari seseorang yang sangat menyayangi hewan tersebut. Hewan tersebut adalah seekor anjing yang sudah berusia 15 tahun (mati karena usia). Berikut tahapan proses pengawetan hewan dengan cara pengeringan/taksidermi : 1. Penangkapan/penentuan jenis hewan yang akan diawetkan. Tahapan ini terserah kepada kita, apa dan tujuan kita dengan pengawetan hewan. ini Tentunya bukan untuk eksploitasi atau tujuan yang tidak baik, kita harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip/kelestarian alam/lingkungan. 2. Pematian Hewan. Teknik pematian hewan ini berbeda tergantung jenis hewan apa yang akan kita matikan. Dalam proses pematian ini prinsipnya darah tidak keluar dari organ tubuh, dan dipastikan benar bahwa hewan tersebut benar-benar mati. Karena jangan sampai ketikan proses pengulitan berlangsung, hewan tersebut secara fisiologis belum mati. Istilah saya untuk kejadian tersebut adalah "menjolimi". (Contoh gambar proses pematian hewan di bawah artikel ini). 3. Pengulitan (Skining). Tahapan ini adalah bagaimana caranya kita melepaskan kulit yang melekat pada otot/menempel pada daging hewan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya kita harus dilengkapi dengan seperangkat alat bedah yang lengkap dan tajam sehingga proses pengulitan berjalan dengan baik (kilit terkuliti, tidak ada otot/daging yang menempel pada kulit). 4. Pengawetan Kulit (Preserving). Pengawetan kulit ini penting dilakukan karena bisa menyebabkan bau busuk bila kita tidak benar-benar memahami tahapan ini. Setelah selesai pengulitan, kita lanjutkan dengan pengawetan kulit dengan cara memberi pengawet kulit (boric acid) yang ditaburkan ke seluruh kulit yang dikuliti (bagian dalam). Setelah itu untuk beberapa hari dikeringkan. Lama pengeringan tergantung jenis hewannya.

PENYUMBANG OKSIGEN TERBESAR BUAT BUMI ??

Siapa Penyumbang Oksigen Terbesar untuk Bumi Kita? Sudah baca pertanyaan di atas gan? nah kalau udah dibaca, silakan dijawab.. Siapa sih yang rela-rela memberikan Oksigen bagi manusia..berjasa banget kan? Kalau agan jawab : Pohon Jawabannya: sory gan..masih salah.. pohon adalah salah satu penyumbang oksigen, akan tetapi hanya sebesar 20% untuk bumi. pohon berguna untuk mitigasi (mengurangi) karbondioksida yang ada di bumi. jadi untuk mengurangi dampak pemanasan global, tanamlah pohon agar CO2 nya dapat dimanfaatkan oleh pohon. karena nilai wajar dari CO2 adalah 0,1% di bumi ini, tetapi tahun 2010 ini kadar CO2 di atmosfer bumi sudah mencapai 0,3% gan!! Jadi Jawaban Yang Benar adalah : agan tau siapa itu? yap jawabannya adalah Plankton. Khususnya adalah Fitoplankton Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik. Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya. Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu. Selain sisa-sisa hewan, plankton juga tercipta dari tumbuhan. Jika dilihat menggunakan mikroskop, unsur tumbuhan alga dapat dilihat pada plankton. Beberapa makhluk laut yang memakan plankton adalah seperti batu karang, kerang, dan ikan paus. Plankton adalah organisme yang menyumbang 80% kebutuhan oksigen yang ada di bumi ini. dengan kemampuannya berespisari menghasilkan gelembung-gelembun oksigen yang terdapat di dalam laut, oksigen tersebut terlepas ke udara dan menjadi gas yang bisa kita nikmati sekarang Para ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan plankton secara tidak langsung dapat membuat awan yang dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan. Sehingga plankton bisa membantu memperlambat proses pemanasan bumi. Dierdre Toole dari Institusi Oceanografi Woods Hole (WHOI) dan David Siegel dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) adalah dua peneliti itu. Penelitian yang dibiayai oleh NASA tersebut mengungkapkan ketika matahari menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling tercampur. Plankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Karenanya, plankton mengalami malnutrisi. Akibat kondisi malnutrisi ditambah dengan suhu air yang panas, plankton mengalami stress sehingga lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya. Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka. Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara. Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan. Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari gangguan sinar ultraviolet Proses ini sebenarnya telah beberapa tahun dipelajari di laboratorium oleh para ilmuwan, namun proses alamiahnya baru kali ini dapat dipelajari. Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi. Namun, untuk membuktikan hal tersebut, masih harus dilakukan penelitian lanjutan yang seksama. Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari saja. Padahal, karbondioksida di udara, dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun. Karena penguraian alamiah DMS sangat cepat, DMS tidak akan menimbulkan efek rumah kaca, tidak seperti karbondioksida. sumber: kaskus